Dalam masalah ini banyak yang masih mempertanyakan setiap hal tentang doa. Dikarenakan sering kali kita menemui kebuntuan dari apa yang dihajatkan. Dan kemungkinan-kemungkinan yang timbul dikarenakan minimnya pemahaman. Terutama tak mudah memahami kandungan Firman Allah serta hadist rasul. Yang menjadi acuan dan pertanda kekuatan iman. Agar mengerti arah terkabulnya disertai proses yang ada ketika doa itu sendiri menjadi mustahil ataukah tidak.
Dengan sedikit pengetahuan dan banyak berharap bertambahnya wawasan, saya mencoba menuangkan apa yang menjadi permasalahan tersebut. Berdasarkan apa yang saya pelajari maupun bacaan sebagai referensi ditambah tanya jawab dari sekian pandangan ulama dan orang-orang bijak sebelumnya.
Rasulullah SAW sering berdoa agar tidak dihinakan Allah, “Ya Allah berilah tambahan kebaikan dan jangan Engkau kurangi, muliakan kami, dan jangan Engkau hinakan. Berilah anugerah kepada kami dan jangan kaucegah. Prioritaskan kami dan jangan ditinggalkan. Ridhoilah kami dan berikan keridhoan kepada kami.” (HR Achmad dan Turmudzi).
Banyak doa yang terlantun dari keluasan ilmu rasulullah. Dari setiap kata mengandung makna luas yang membutuhkan pengetahuan mendalam atas dasar ketuhanan. Dan sewajarnya bagi umat yang mengikuti doa tersebut memiliki hasil yang berbeda sesuai dengan pemahaman agamanya.
Dari makna yang termaktub seperti "kebaikan" dan " keburukan", menunjukan terjaganya diri dari kehinaan sekalipun hati dalam keadaan lalai yang tak disengaja.
Begitu pula "kemuliaan" yang dipanjatkan, sebagai harapan agar Allah selalu menempatkan dirinya (rasul) dalam kebanggaan dan sebutan Allah. Dan ketika Allah menyebut-nyebut namanya (rasul) penghuni langit dan bumi menyebut-nyebut namanya dengan kebaikan. Dan bagi yang menghinanya, akan dihinakan sehina-hinanya.
"Anugrah" dan "ridha" yang dipanjatkan, dengan harapan derajat tinggi tanpa ada yang mampu mengganggu dikarenakan dalam naungan serta kehendak keAgungan Allah sebagai pelindung Yang Maha Melindungi.
Menurut athaillah dalam Risalah al Qusairiyah, dasar terkabulnya doa adalah mahabbah. Hingga dalam kecintaannya timbulah kecintaan Tuhannya. Dan dengan CintaNya, datanglah berbagai kebaikan dan pemenuhan keinginan hambaNya. Apa yang datang dari hati akan kembali pada sifat ghaib atas kuasaNya yang meliputi dunia dan seisinya.
Banyak dari kita mengharapkan sesuatu atas kadar keperluan, tetapi minim apa yang akan diberikan sebagai proses pembelajaran sebelumnya. Tak mungkin kita mengharapkan sesuatu namun tak mau tahu apa yang menjadi rambu agar mampu menjaga amanah demi keselamatan agama dan iman pemilik doa. Hingga kerap kali seorang hamba memohon, akan tetapi yang diterima layaknya masalah yang tak berujung. Dan menimbulkan kemarahan yang tak perlu serta berputus asa dari apa yang menjadi prosesinya. Dan pada akhirnya keimanan pun surut, dan merasa dirinya seperti merasa tak didengar Allah dikarenakan banyaknya dosa dan keburukan yang dimiliki. Dan banyak alasan-alasan yang timbul hingga pada akhirnya, keputusasaan tetap menjadi kesimpulan dari semua itu.
Tetaplah memohon pertolongan dan mohon terkabulnya hajat dunia wal akhirat, dan tak pernah berputus asa dari rahmatNya. WAB
